“BLUMMY” STORY
Jam sudah menunjukkan pukul 06.25 WIB. Mitha segera berangkat ke sekolah.
“Ayah, ayo berangkat ! udah mau telat nih. “ , kata Mitha sambil memasang sepatu kirinya.
“Iya Nak.” , kata Ayahnya sambil mengambil tas kerjanya yang ada di meja ruang tamu.
“Mama, Mitha berangkat dulu ya.” , sambil mencium tangan kanan mamanya.
“Iya sayang hati-hati di jalan. Kalau di sekolah jangan nakal. Belajar yang baik.” , kata Mama sambil mencium kening Mitha.
Mitha pun langsung bergegas naik sepeda.
***
Sesampai di sekolah, Mitha langsung masuk kelas. Mitha melihat teman-teman pada ngobrolin sesuatu.
“Mitha, kamu kok barusan datang sih.” , kata Rose jam melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 06.35 WIB.
“Hehehe. Tadi bangunnya agak kesiangan Ros.” , kataku cengar-cengir.
“Dasar malas.” , kata Okta.
Aku nggak menghiraukan, biasalah teman-teman Mitha sukanya mengolok-olok terus.
“Ehh, kalian pada bicara apa aja sih? Kok kayaknya serius sekali.” , kata Mitha.
“Kamu tahu nggak, tadi malam si Fery sms aku. Dia bilang kalau dia itu sebenarnya sudah suka sama aku.” , kata Fitri kegirangan banget.
“Hah? Kamu nggak bohong kan, Fit?”, kata Dinni terkejut.
“Iya benar aku nggak bohong. Dan kalian tahu, dia minta aku jadi ceweknya.” , kata Fitri.
“Terus bagaimana? Kamu jawab apa, Fit? Kamu terima dia jadi cowok kamu?” , kata Mitha penasaran.
“Sayangnya aku nolak dia Mit. Aku nggak enak sama Putri. Secara ya dia kan mantannya Fery. Masak aku sebagai sahabatnya Putri, tega merebut Fery dari tangannya.” , kata Fitri sedikit sedih.
“Loh, tapi kan mereka sudah jadi mantan Fit. Mengapa kamu pakai nggak enak segala. Putri kan nggak berhak lagi buat ngatur si Fery.” , kata Dinni.
“Tapi setahuku Putri itu masih suka sama si Fery, Din. Kan aku takut kalau dia nyangka aku yang udah ngerebut Fery dari tangannya. Disini aku sebagai sahabatnya dia, aku juga harus bisa jaga perasaan, Din. Aku nggak boleh egois.” , kata Fitri.
“Sekarang gini saja, kamu suka nggak sama Fery? Kalau kamu memang suka, kenapa nggak diterima saja, Fit.” Kata Rose.
belum sempat Fitri menjawab, Putri tiba-tiba muncul dari pintu kelas.
“Hey Blummy, sedang apa kalian?” , kata Putri sambil meletakkan tasnya di bangku paling depan.
Mereka segera menghentikan pembicaraan yang tadi.
“Hehe, nggak ko Put kami cuman bicara tentang band yang kemarin itu loh.” , kata Fitri gugup sambil melirikkan matanya ke Mitha, Rose, Okta, dan Dinni sebagai tanda isyarat kalau mereka tidak membicarakan Putri.
“Iya Put, kami ngobrol tentang anak band yang kemarin.” , kata Mitha menutupi pembicaraan tadi.
Tet..tet..teeeeeeeet……… bel masuk pun berbunyi. Mereka memulai pelajaran dan berdoa bersama di masing-masing kelas dengan dipimpin Bapak Guru dari kantor yang menggunakan pengeras suara.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. Mereka pun segera pulang. Seperti biasa mereka berenam selalu pulang bersama-sama. Tiba-tiba Fitri menarik tangan kanan Mitha.
“Eh, tunggu Rik. Barusan saja aku dapat sms dari Fery. Dia bilang kalau dia ingin bicara sesuatu penting. Aku harus bagaimana Rik ? aku benar-benar nggak enak sama Putri.” , kata Fitri panik.
“Kita minta saran dulu ke Rose, Okta, Dinni.” , kata Mitha.
Kami berdua segera menghampiri Rose, Okta, Dinni.
“Loh, Putri mana ? Kok cuman ada kalian bertiga saja.” , kata Mitha sambil menoleh kanan kiri mencari Putri.
Okta menyahut, “Dia sudah pulang dulu. Soalnya tadi dia ditelepon mamanya disuruh cepat pulang. Makanya dia pamit pulang duluan.”
“Syukur deh kalau gitu. Tadi Fery sms Fitri kalau dia ingin bicara berdua sama Fitri dan sekarang dia sudah menunggu di kantin sekolah. Tapi Fitri nggak enak sama Putri. Makanya sekarang Fitri bingung harus melakukan apa. Apa kalian ada pendapat ?” , kata Mitha.
Rose menyahut, “Temui aja nggak apa-apa”
“Hah ? Yakin nggak kalian ?” , kata Fitri melotot.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menemui Fery di kantin sekolah kami.
“Mana si Fery ? Kata kamu dia disini.” , kata Dinni.
“Iya, tapi dimana ya ?” , kata Fitri sambil menoleh kanan kiri
“Ehh, itu dia duduk di sana.” , kata Okta sambil menunjuk ke arah tempat duduk Fery.
“Iya itu dia, cepat kamu kesana. Nanti kalau dia nembak kamu lagi langsung terima aja nggak usah pakai ditolak segala.” , kata Rose sambil mendorong Fitri ke arah tempat duduk Fery.
Fitri pun menghampiri Fery yang sedang melamun. Mitha, Rose, Okta dan Dini melihat Fitri dari kejauhan. Entah apa yang dibicarakan mereka. Mereka enjoy sekali saat bicara berdua. Mereka juga terlihat romantis. Tapi Fitri sedikit malu sama Fery. Ya maklum dia kan pemalu anaknya.
Setelah nunggu sekitar 15menit, Fitri pun kembali hampiri Mitha, Rose, Okta, Dinni. Dia terlihat sangat kegirangan sekali.
“Ehh guys kalian tahu nggak, aku sudah resmi jadian sama Fery loh.” , kata Fitri kegirangan banget.
“Hah ? Yang bener Fit ?” , kata kami serempak sambil melotot terkejut.
“Iya beneran. Ya sudah ayo kita pulang aja.” , kata Fitri sambil menari tangan Mitha dan keluar dari kantin.
Mereka berlima pun segera pulang ke rumah.
***
Satu minggu kemudian…
“Hay guys, kok pada menggerutu gitu sih. Ada apa sama kalian ? Ada masalah ? Cerita donk kawan.” , kata Rose sambil meletakkan tasnya di bangkunya.
“Ternyata Putri tahu kalau aku sudah jadian sama Fery. Aku bingung harus melakukan apa lagi, Ros ?” , kata Fitri kebingungan.
“Hah ? Kamu yakin kalau dia tahu ?” , kata Rose terkejut.
Di tengah-tengah perbincangan mereka, Putri pun datang dan langsung menghapiri Fitri yang duduk di sebelah Dinni.
“Ehh, maksudmu apa seperti ini ke aku ? Apa kamu ingin buat aku sakit hati ? , kata Putri sambil menggebrak meja.
“Tunggu Put, aku nggak ada maksud apa-apa sama kamu.” , kata Fitri sedikit gugup.
“Halaa..kamu nggak usah pakai ngeles deh. Kamu itu memang sukanya merebut pacar orang deh. Ya memang aku udah mantannya. Tapi kamu tahu kan kalau aku sayang banget sama dia. Eh, bisa nggak sih kamu lihat aku senang ?” , kata Putri dengan suara yang agak keras.
Saking jengkelnya Fitri kepada Putri, Fitri langsung menyahut.
“Kamu nggak usah pakai ngumung gitu ya. Apa hak kamu ngatur aku ? Kamu cuman seorang sahabat nggak lebih. Kamu bukan orang tuaku yang bisa mengatur hidupku. Eh, kamu sadar diri donk kamu itu siapanya Fery ? Kamu kok beraninya mengatur hidupnya dia.” , sahut Fitri jengkel.
“Kamu jangan mentang-mentang sudah jadian sama Fery kamu bisa kayak gini sama aku. Kamu kira aku takut sama kamu ?” , kata Putri.
“Put, dengerin kami dulu. Kami tahu kalau kamu mantan si Fery. Kami tahu kok kalau kamu masih sayang sama dia. Kami tahu kalau kamu masih suka sama dia. Tapi kamu juga harus bisa ngerti kalo kamu udah nggak berhak sama hidupnya Fery. Biarin aja dia mau jadian sama cewek mana aja. Itu urusan dia Put.” , kata Mitha bijak.
“Kalian semua mau apa ? Kalian membela dia ?” , kata Putri sambil menunjuk Fitri.
Suasana pun semakin panas. Semua anak yang ada di kelas ikut tegang. Dan akhirnya, Teet..teet..teeeeeeet.. Suara bel pun berbunyi. Mereka menghentikan pembicaraan dan mereka mulai belajar.
“Udah-udah kita pelajaran dulu. Nanti dibicarakan baik-baik lagi.” , kata Dinni dengan suaranya yang lembut.
***
Bel istirahat pun berbunyi. Mitha dan Rose pergi ke kantin. Nggak seperti biasa kami pergi berenam. Kali ini kami hanya pergi ke kantin berdua saja.
“Mit, kamu tadi ingat kata-kata aneh yang diucapkan Fitri nggak ?” , tanya Rose.
“Emmm..apaan memangnya, Ros ?” , tanyaku penasaran.
“Aku ngerasa ada yang aneh sama Fitri. Sepertinya dia berubah semenjak sama Fery. Kamu merasa ada yang aneh nggak sama dia ?” , kata Rose.
“Iya sih, aku juga ada perasaan kayak gitu. Aku merasa dia itu sekarang sok pefect. Kayak dia itu yang paling cantik di sekolah. Mentang-mentang sekarang dia udah jadi pacarnya seorang anak band terkenal di sekolah kita.” , kata Mitha.
“Iya, aku juga merasa gara-gara itu dia berubah. Tapi ya sudahlah biarin saja.” , kata Rose.
Mereka berdua pun melanjutkan ke kantin.
***
Karena sekarang adalah hari sabtu, bel pulang berbunyi tepat pukul 10.30 WIB. mereka pun pulang. Tapi, tidak seperti biasanya kali ini mereka hanya pulang berempat. Putri pulang sama temannya yang lain dan Fitri pulang sama Fery. mereka merasa akhir-akhir ini Fitri berubah. Tapi, mereka selalu berfikir positif aja kepada Fitri dan Putri.
“Ehh, nanti malam ke rumahku ya. Seperti biasa mamaku akan masak yang enak buat kalian.” , kata Okta.
“Oke nanti malam kita ke rumahmu, Ta.” , kata Rose.
“Aku juga, Ta.” , kata Mitha serempak dengan Dinni.
“Aku tunggu kalian di rumah. Nanti Fitri sama Putri biar aku yang sms.” , kata Okta.
“Ya sudah , sampai nanti malam ya, Ta.” , kata Dinni sambil melambaikan tangan kanannya.
Mereka pun akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
***
Malamnya…
Tilut..tilut..handphone Mitha berbunyi. Segera dibukanya, ternyata sms dari Okta.
Mith, tadi aku udah sms Putri sama Fitri. Dia bilang
kalau dia nggak bisa datang. Fitri bilang kalau dia ada acara
sendiri sama Fery. Terus kalau Putri, dia bilang males ketemu
sama kita.
Mitha pun membalas sms Okta.
Ya sudalah biarin saja. Nanti di rumahmu kita bicarakan
masalah Putri sama Fitri.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB. Mitha segera ke rumah Okta.
***
“Hey guys, kalian sudah pada di sini. Aku telat ya. Maaf ya kawan.” , kata Mitha sambil melepas helm yang dipakainya.
“Nggak apa-apa Mit.” , kata Okta.
“Bagaimana ini sama masalah Fitri dan Putri ? Mereka sudah semakin nggak akur saja. Tadi Fitri sms aku, dia bilang kalau Putri mengolok-olok Fitri terus lewat sms. Bagaimana caranya kalau kita akurin mereka lagi. Persahabatan kita, Blummy semakin pecah. Masak gara-gara seorang cowok saja persahabatan kita jadi hancur kayak gini. Kita harus bisa mempertahankan Blummy. Kita harus bisa bijaksana menghadapi masalah ini. Aku nggak mau persahabatan kita jadi pecah.” , kata Dinni.
“Iya Din, Blummy nggak boleh hancur kayak gini. Aku sudah terlanjur sayang sama kalian semua. Aku sudah nyaman banget sama kalian semua. Aku nggak mau pisah sama kalian.” , kata Mitha sedikit sedih.
“Tapi bagaimana caranya ? Mereka udah sangat benci satu sama lain.” , kata Okta sedikit putus asa.
“Bagaimana pun caranya, kita harus berusaha buat akur mereka lagi. Kita semua pasti bisa kalau kita berjuang bersama. Kita coba semua cara.” , kata Rose menghibur kita.
“Bagaimana kalau kita kumpulkan mereka berdua disini ? Nanti kita ngobrol masalah ini baik-baik.” , Tanya Mitha.
“Oke aku setuju. Tapi, kita bilang ke Putri kalau disini nggak ada Fitri. Biar dia mau datang kesini.” , sahut Okta.
“Ya sudah kalau begitu cepat kamu sms Fitri sama Putri.” , kata Rose.
Okta pun segera sms Fitri dan Putri.
Guys, kamu bisa datang ke rumahku sekarang nggak ?
Aku mau bicara penting sama kalian. Please datang ya
teman. Aku tunggu di rumahku sekarang.
Setelah sekitar 10 menit, Fitri pun datang sama si Fery.
“Guys, kalian mau bicara penting apa sama aku ?” , kata Fitri sambil turun dari sepeda si Fery.
“Kita mau bicara penting sama kamu tentang masalahmu sama Putri. Kita harus selesaikan semuanya. Kita nggak mau persahabatan kita hancur.” , kata Okta.
“Hah ? Kenapa sama persahabatan kita ? Baik-baik saja kan ? Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kita sahabatan tanpa Putri kan juga bisa.” , kata Fitri cuek.
Putri pun datang dan kemudian dia langsung menhampiri kami.
“Kenapa kamu ikutan disini ?” , kata Putri sambil menunjuk Fitri.
“Suka-sukaku donk. Apa hak kamu mengatur aku ?” , sahut Fitri.
“Udah-udah. Kalian apa-apaan sih. Kalian sadar nggak sih kalau persahabatan kita ini udah hancur. Coba kalian ingat-ingat dulu kita kemana saja bersama terus. Tapi sekarang sejak ada masalah ini kita nggak pernah kayak dulu lagi.” , kata Mitha sedikit ngotot.
“Sekarang gini saja, mumpung disini ada kalian bertiga kita selesaiin masalah ini baik-baik.” , kata Rose sambil menunjuk Fitri, Putri dan Fery.
“Fer, sebenarnya kamu sayang nggak sama Fitri ?” , kata Dinni.
“Aku sayang banget sama Fitri. Aku cinta sama dia, Din.” , kata Fery.
“Put, kamu denger sendiri kan apa yang udah diomongin sama Fery. Kalau memang kamu masih sayang sama Fery, kamu pasti senang lihat Fery bahagia sama ceweknya. Apalagi ceweknya adalah sahabatmu sendiri. Kamu ikhlaskan saja kalau kamu sayang sama Fery. Disini kita nggak ada maksud buad membela Fitri. Kita nggak membela siapa-siapa kok.” , kata Rose.
“Putri, Fitri, coba kalian pikir secara dewasa. Masak persahabatan kita hancur cuman gara-gara satu cowok ? Mana kekompakkan kita yang dulu ? Kekompakkan kita yang paling terkenal di sekolah. Mana Blummy yang dulu keluar bareng, makan bareng, lihat film bareng, belajar bareng, ketawa bareng, sampai menangis pun kita juga selalu bersama.” , kata Mitha.
“Iya Put, kita tahu kalau kamu masih sayang sama Fery. Kita juga tahu gimana perasaanmu. Kita juga tahu gimana di posisi kamu. Tapi tolong kamu bisa bersikap dewasa Put.” , kata Okta.
Sementara itu, Putri dan Fitri terdiam menyesali apa yang udah mereka lakukan pada persahabatan mereka.
“Guys, maafkan aku. Aku mengaku aku yang salah. Aku nggak bisa bersikap dewasa. Aku cuman bisa egois. Aku juga nggak memikirkan kalian. Maaf guys, aku udah buat persahabatan kita jadi kayak gini. Fit, kamu mau maafin aku kan ? Aku rela kalau kamu pacaran sama Fery.” , kata Putri menyesal.
“Iya Put nggak apa-apa. Aku juga salah. Aku cuman mikirin perasaanku aja. Aku juga uda ngerebut Fery dari kamu. Blummy maafin aku juga ya. Aku udah buat Blummy hancur kayak gini.” , kata Fitri sambil meneteskan air matanya.
“Nggak Fit, kamu nggak ngerebut Fery dari aku kok. Fery masa laluku, aku nggak berhak ngatur hidupnya Fery. Aku senang lihat kalian berdua bisa pacaran.” , kata Putri sambil memeluk Fitri.
“Begitu donk kawan. Itu baru yang namanya Blummy. Blummy yang selalu bersama. Blummy yang saling mengerti. Dan Blummy yang paling kompak.” , sahutku.
“Terima kasih guys, kalian udah satuin kita berdua lagi. Kalian memang hebat.” , kata Fitri sambil memeluk kami semua.
“Iya sama-sama. Ini semua berkat kekompakkan kita.” , sahut Okta.
“Aku kangen kalian semua. Kangen Blummy.” , kata Dinni sambil berpelukan.
Akhirnya Blummy pun bersatu kembali. Blummy yang dulu tumbuh lagi. Dari masalah itu, kami bisa mengerti apa arti persahabatan bagi kami semua.